Doa Untuk Wonderbra dan Para Personilnya: Perang antara Rock and Roll dan KKK

Oleh: Nosa the Wonderguitar

.

Mungkin pathetic benar apa yang bakal lo baca di sini: sebuah kenyataan pahit tentang keadaan sebuah band yang menurut beberapa orang, termasuk gue sendiri, bisa menjadi band besar yang mampu memperbaiki rusaknya musik Indonesia dan pasarnya sekarang. Wonderbra sebagai sebuah band saat ini sedang menghadapi sebuah kenyataan yang jauh dari ketenaran Rock and Roll. Kenyataan yang menyedihkan di mana para personilnya terjepit oleh KKK: Keluarga, Kapitalisme, dan Kuliah.

.

Dua K yang pertama menimpa tiga personil Wonderbra yaitu: Ms. Teraya Paramehta, Mr. Nosa Normanda, dan Mr. Edy Sembodo. Ms. Teraya Paramehta, dari kacamata seorang awam sekarang bisa dibilang mapan. Ia adalah seorang dosen di UND (Universitas Negeri Depok), juga seorang wartawan dan budak Kapitalisme sebuah majalah ekspat di kota neraka ini. Sesungguhnya sangatlah nyaman pekerjaannya ini, jika kebuasaan di dalam hatinya bisa cukup dibendung dan ia bisa cukup egois untuk meninggalkan band dan kegamangan pergaulan metropolitan. Terlebih lagi profesi seperti ini cukup [atau mungkin sangat] didukung Keluarganya. Tapi dari keluhan-keluhannya di Multiply, nampaknya ia tidak bisa melakukan itu, maka Wonderbra tetap bernafas walau tersengal-sengal menanti Ms. Tera dengan jadwalnya yang padat untuk datang ke studio. [tambahan berita terbaru: Ms. Tera menjadi betah dengan pekerjaannya karena alasan financial. Namun ia berencana akan mengatur jadwalnya untuk band dengan baik—walau beberapa minggu ini terlihat kurang berhasil]

.

Mr. Nosa Normanda berbanding terbalik dengan Ms. Tera yang mengalami tekanan batin dan bukan konflik besar keluarga. Nosa Normanda baru saja disidang oleh Dewan Jenderal Keluarga besarnya [terdiri atas Om-om, dan Tante-tantenya yang ‘mapan’ dan mama-papanya] atas dua masalah: Kapitalisme dan Keluarga nuklir. Om-nya yang terkaya memberikan jaminan berupa wejangan: “Om jamin, kalau kamu jadi seniman, kamu pasti KERE…RE..RE..RE!!” dan kata Kere tadi terngiang-ngiang di kepala Nosa Normanda bagai sebuah gadam yang keras dari Hanoman [Dung! Dung!]. Yang lebih ngenes lagi, ketika Nosa memperlihatkan hasil kerja kerasnya, sebuah majalah Teater bernama Teatron, si Om membaca, menaruhnya di meja dan bilang, “Semua seniman di sini nggak ada yang sekolah! Kamu kan kuliah, di UI lagi. Kamu bisa lebih daripada ini. Kenapa kemarin nggak mau nyoba DEPLU atau Departemen pemerintahan yang lain? Om punya banyak koneksi.” Dia men-judge tanpa tahu betapa susahnya membuat itu majalah. Lagipula seniman miskin adalah seniman yang malas kerja dan/atau bodoh. Bayangkan apa yang bisa dilakukan seniman lulusan kuliahan, kritis, memiliki nilai akademis, rajin bekerja, menabung dan tidak sombong di negeri ini? Si Om SOTOY! Yang paling sempurna yang menutup pengadilan tersebut adalah sebuah pertanyaan dari pemilik rahim yang melahirkan Nosa Normanda, yang kontradiktif sekali dengan judgment keluarga besar ini tentang Nosa Normanda si Seniman Kere, “Jadi, kapan kamu mau Mama lamarkan pacar kamu?” ARRRGH!!! Apa Seeeh!!?

.

Mr. Edy Sembodo mengalami nasib yang lebih mengenaskan dari Mr. Nosa Normanda karena ia memiliki rasa CINTA yang sangat besar terhadap keluarganya, dan rasa TANGGUNG JAWAB yang tinggi terhadap karir dan keadaan keuangannya. Ia ‘berkerja banting tulang dalam mencari perkerjaan’, dan hasil yang didapat bagai memancing di pantai ancol: polutan, sampah, dan ikan-ikan kecil yang kemungkinan besar mengandung merkuri. Namun di sela-sela jam nelayannya yang padat, ia masih mampu tersenyum dan datang latihan band dengan iklas dan ridha untuk sebuah perjuangan atas kesetiakawanan sosial dan cita-cita berbangsa dan bernegara. Edy Sembodo sedang dalam perjalanan menuju suatu heroisme: apakah ia akan berakhir bahagia seperti sebuah komedi Lysistrata, atau A Midsummer Nights Dream? Atau ia akan berakhir tragis seperti Oedipus, Othello atau O-O yang lain? Atau mungkin juga percampuran tragicomedy layaknya yahudi dalam Merchant of Venice? Kita tunggu petualangan berikutnya!

.

Dua personil Wonderbra yang lain Mr. Asep Rahman dan Mr. Yuda Wahyudin secara lengkap mengalami KKK, khususnya K yang ketiga. Beberapa hari belakangan ini, Mr. Asep Rahman berubah menjadi Prof. Calculus dalam komik Tin Tin yang selalu mencari ke arah mana energi kosmik menuju. Ia juga mulai menghitung dengan bandulnya tentang premis-premis yang terjadi dan kesimpulan apa yang bisa ia ambil tentang alam semesta dan strukturnya. Tebak, apakah yang sedang dilakukan Prof Asep Calculus? Betul! Dia sedang belajar LOGIKA! Logika adalah suatu mata kuliah di departemen filsafat di mana Mr. Asep Rahman terancam DO kalau tidak lulus lagi kali ini. Maka ia berusaha dengan sangat keras bagaimana memecahkan masalah-masalah logika yang pelik karena diulang-ulang, membosankan, dan diajar oleh seorang cumi-cumi kaku yang jago bermain clarinet bernama JP Hayon yang legendaris. Dalam mitologi Nickelodeon dia juga dikenal sebagai Squidworth. Jika Mr. Asep Rahman gagal dalam K yang ini, maka ia akan memiliki masalah K-luarga dan K-pitalisme. Mudah-mudahan Prof. Calculus bisa membantu Asep untuk menjawab soal: “Premis mayor: Silet adalah benda tajam; Premis minor: Silet bisa melukai kulit; maka kesimpulannya?” Jawab Asep: “Dilukai dengan silet itu enak…” TEEET! Maaf, anda tidak bisa lulusssss… lebih baik mulai tanya Galileo.

.

Mr. Yuda Wahyudin terkena Hidayah karena ia tidak mabuk, rajin beribadah, dan tidak neko-neko seperti kawan-kawan band nya yang lain: ia terinfeksi KKK ibarat negro Kristen taat yang pada tahun 1964 di Oklahoma digantung terbalik dengan telanjang dipohon Oak dan diketawai seorang anak perempuan kulit putih yang bilang: ‘tititnya lucu….’ Sebuah kekaguman pertama anti-rasis dari orang WASP (White Anglo-Saxon Protestant) Amerika di Oklahoma. [metafora yang iseng dan menyeramkan!]. Jalan yang lurus nampaknya tidak selalu mulus untuk Mr. Yuda Wahyudin. Terlihat di acara ‘Mari ngerjain Selebriti’ di tv-tv swasta yang ngeshoot ada tiga selebriti wonderbra (Edi Sembodo, Manajer Manan, dan Yuda Wahyudin) yang sedang ‘pura-pura’ nyebarin flyer Fakultas Tehnik di ITC. Salahnya tuh acara, sesungguhnya seleb-seleb ini tidak sedang acting buat ngerjain orang, mereka benar-benar sedang bekerja nyebarin flyer. Ketika ditanya Wartawan, kenapa melakukan hal itu, Mr. Yuda hanya menjawab dengan senyum tipis ala Brian Jones nya, “Untuk beli efek, cuy!!!” Dalam tekanan keluarga untuk mencari pekerjaan tetap, dan menyelesaikan skripsinya yang tinggal seiprit, Mr.Yuda Wahyudin masih bisa focus untuk tujuan mulia yang diberkahi tuhan: beli efek cuy!!!

.

Itulah update terkini dari band yang baru mulai dewasa dan mulai tenggelam dalam kegamangan realita kolektif masyarakat urban. Mereka menunggu doa dari kita semua untuk bisa kembali menyemarakkan musik dan pergaulan yang sehat dari komunitas-komunitas orang cerdas yang ada di ibukota. Dalam keadaan mereka sekarang, mereka masih konsisten untuk terus membuat lagu. Rekaman pertama album kedua mereka juga akan dilakukan tanggal 30 bulan Maret ini. Doakan saja, segala carut marut KKK ini bisa diredam layaknya Mandela menekan Apartheid. Kita berdoa dengan sangat khusyuk kepada Rock and Roll dan kejahatannya. Mudah-mudahan babah Bob Johnson bisa mengamini kita semua. Amin.

                            

SINDOOO!!

Sindo111107_1

Apologia Pada Kota Serang

Alun-alun Serang Timur (12/01). Rachman Chakim Muchlas, Bassist Band Indie Jakarta, Wonderbra pingsan di panggung setelah lagu ke tiga. Ia langsung dibawa ke Hotel untuk ditangani dengan lebih intensif.

Kejadian tersebut hampir menjadi puncak kerusuhan oleh ratusan penonton dalam acara Pesta Rakyat Serang. Wonderbra tampil dengan stamina dan kelakuan Rock n Roll mereka yang maksimal sejak dari awal main. Ini membuat penonton tak dapat menahan sugesti dari dentuman drum dan aksi gila para personil band ini. Mereka bahkan sangat mengenal nama vokalis band ini, yaitu Zubaedah, juga gitaris band ini, Roni. Penonton terus berteriak agar Wonderbra memainkan lagu mereka yang menjadi hits di hati penonton seperti "I miss u but i hate u", "bocah", dan "Kucing Garong".

Namun penonton sempat kecewa ketika Wonderbra hanya memainkan lagu-lagu berbahasa Inggris. Kekecewaan mereka diobati dengan tendangan kaki teman-teman mereka sendiri, karena Wonderbra dengan rock and roll yang cuek bebek, terus memicu mereka dengan hentakan-hentakan dan distorsinya. Tetapi ini sebetulnya suatu langkah yang salah.

Siang hari sebelum manggung, Wb sebenarnya telah menghubungi Dukun Terpercaya mereka, Mbah Phetot MM. MSc. Mhum. Phd. Alm, untuk meramalkan keadaan malam ketika mereka manggung. Kata Mbah Phetot, ia akan memberikan kereta buah labu, tikus yang menjadi kusir, dan sepatu kaca, kalau WB manggung di bawah jam sepuluh. "Awas", kata mbah Phetot,"di atas jam 10 Serang menggila. Apalagi malam ini bulan purnama."

Sialnya karena kengaretan acara, WB manggung sampai lewat jam 10.  Sehingga kereta labu, kusir dan sepatu kaca raib seketika, berganti lolongan-lolongan bau anggur dan minuman murah, setan-setan yang begitu mudahnya tunduk pada kuasa jahat Rock n Roll. Walhasil, penonton sudah tak peduli lagi apa si Roni memainkan Slank, atau si Zubaedah menyanyikan Kucing Garong sambil Goyang Dombret, mereka hanya ingin ber-moshing ria dalam hentakan Edi Sembodo yang dibawah sinar bulan purnama berubah menjadi Songoku (kalo keadaan normal, dia adalah monyet).

Kerusuhan dimulai ketika ada penonton yang berantem, dan salah satunya mengeluarkan pisau. Lalu setelah mang Kuyut berhasil mendamaikan, Wonderbra akhirnya menyerah dengan Rock n Rollnya untuk sementara dan mulai menyanyikan lagu dangdut gacoan mereka 'Crossing the Railroad.' Maka penonton mulai bergoyang. Beberapa bahkan ada yang nyiapin uang serebuan buat nyawer Zubaedah.
Namun di bagian belakang penonton, kerusuhan tetap berlangsung, dan dua orang polisi berbaju preman naik ke atas panggung untuk menghentikan pertunjukan. Tetapi WB nekat membawakan satu lagu lagi berjudul 'Hell's Kitchen', dan tepat setelah Intro, Asep aka Rahman, Pingsan.

Setelah dibawa ke hotel untuk dirawat secara intensif (yaitu dibungkus bed cover hotel, supaya hemat kaen kafan, dan siap dikubur tanpa dimandikan seperti halnya pahlawan mati syahid), tiba-tiba Asep bangun. Ternyata ia tidak pingsan, tetapi pura-pura pingsan. Ia merasa kalau band mundur begitu saja, panggung bisa dibakar. Padahal semua orang tahu, bagaimanapun cara mundurnya, panggung tetap bisa dibakar karena tukang korek dan tukang rokok masih pada dagang di sekitar panggung.

Tapi nasi sudah menjadi tahi. Pertunjukan berakhir dengan kentang stengah matang nyelip di pantat, alias kena tanggung setengah jalan belon ngecrit udah ketelen. Ini adalah tiga pelajaran untuk WB:
1. Jangan pernah kalah sama penonton! mosok panggung dibakar takut!? Kalo bisa, kalian dulu aja yang bakar, toh panggung bukan punya sampeyan.

2. hati-hati karena di Indonesia banyak orang tak bertanggung jawab. Minta kebebasan begitu dikasih rusuh. Tapi Dilarang nggak mau. Mungkin itu sebabnya sebelum WB maen, band kebanyakan bawain lagu pop. Udah pada ngerti nampaknya.

3. Sebaiknya mengadakan riset budaya konsumen dulu sebelum manggung di mana-mana. Biar bisa nyiapin lagu dangdut atau lagu pop yang lebih menarik. Bisa saja kan, jika manggung di tempat yang banyak fans Nidji-nya, misalnya, Drummer Edy Sembodo digondrongi lagi dan bergaya menjadi Giring. Lalu Zubaedah bisa ngomong, "Nah inilah bintang tamu kami, Vokalis band Bidji, GARONG!!! Tepok tangan semuanya~~"

Esmeralda: In Memoriam

Kita berduka atas kematian salah satu anggota kita, Esmeralda. Perempuan nan cantik dan lembut yang telah menemani band ini dengan gaun hijaunya semenjak pertama kali band ini lahir. Ia seperti ibu buat Wonderbra. Ibu susu. karena dari ASI-nyalah, 10 lagu lahir, 8 pertama sudah ada di album. Ini semua karena si KUTIL LAGI2 BERAKSI! Ngentot kutil ngentoting ngentoted!
.
Gue masih inget waktu gue masih sma kelas 1 dan disuruh nemenin sodara gue yang super tajir untuk belanja alat-alat band ke MG blok m. Dia yang nggak bisa milih gitar, akhirnya memutuskan agar gue yang milihin. Di situ gue ngeliat si Esme, dengan warna hijaunya yang khas. Ia begitu cantik dan menatap gue, manggil-manggil gue... begitulah awalnya...
.
Setelah sekian tahun, sodara gue akhirnya rela nggak rela meminjamkan Esme sama gue secara permanen, karena cinta kami berdua yang terlanjur menggebu. dan selama bertahun-tahun gue make Esme dipanggung. Kebanting-banting, keguling-guling, menemani gue trans bareng-bareng, sampe dia menopause dan harus dirawat. Tapi gue salah milih rumah sakit.
.
Goblok! kenapa gue masih percaya aja ama tuh label! gue nitipin di toko buat dibetulin, kok tiba-tiba raib diculik orang begitu saja. Gue maraaaaah! gue sediiiih! ampe gue nggak bisa tidur! dia lebih setia dari cewek manapun yang pernah jadian ama gue (silka belom masuk itungan, ya)...
.
Babiiiii! mereka menawarkan gue gantinya Esme sebuah gitar Les Paul lokal seharga 1,4 jt, tapi mereka nggak mau ngasih gue soft case dan strap mahal yang ilang bersama  si Esme! bayangin! yang parah lagi, waktu gue minta digantiin duit, biar gue cari sendiri gitar nya, mereka nawar Esme seharga 500rb! dari pertama tuh gitar nggak gue jual dan harga Esme nggak bisa dibeli pake uang! 500rb elo mao elo mao beli gitar elektrik apaan? dangdut aja leih mahal gitarnya.

.

Bang Oma pake  flying V,

matilo Babiii!!
.
Rasanya lebih sakit dari putus gue yang ke 10 sama ce yang sama (total putus 13 kali). Anjing!!!gue stress abies. masa gue disuruh beli softcase sendiri di toko mereka seharga 80 rb. apa-apaan tuh!? gue yang rugi banget dong! anjing!!!!udah ilang, disuruh nambah harga buat beli. otak dagang babi ngentott!
.
Udah abis kesabaran gue ama si kutil. Waktu dy gue maki-maki, di malah nyerahin telepon gue ke anak buahnya, biar anak buahnya yang gue maki-maki. tahi abiess!
.
Yang jelas, Esmeralda sudah tiada. itu kenyataan. Kata P-man dari Pie Band, yang penting gitarisnya, bukan gitarnya. tapi ini bukan masalah skill. Ini masalah hati gue yang remuk. ini tulisan serius, gue cuma berusaha nambahin sedikit becandaan biar gue nggak begitu stress, tapi ternyata percuma. berapa banyak lagi musibah akan menimpa si luntang-lantung ini. hidup ngentoting ngentoted!Terus aja godain rock n roll gue kayak begini. Gue bakal ngeledakin semuanya pake blues! sampe gue ikut mati!!! matiiiii!!!!!

i love you, Esme...

Kutilanisme Kapitalisme!!

"waktu ku kecil aku tak tahu ada yang nyempil
ku towel-towel kukira botol tahunya kutil!"
.
Itu adalah versi sopan dari sebuah lagu lama yg gue denger wkt SD. Versi joroknya, kutilnya diganti k&*^(l. Tp versi sopan ini mengungkapkan isi hati gue (dan kemungkinan semua anak Wb saat ini).
.
Lo tahu kutil? itu semacam jendolan yang muncul di kulitlo, agak gatelin, dan kalo lo potong bisa bikin bedarah dan bakal numbuh lagi. Kutil itu penyakit anak kampung yang kebanyakan maen di got...
.
Sekarang Wb bagaikan seorang anak yang mempunyai kutil yang super besar di bagian kelamin. Lo bisa bayangin gimana rasanya, karena artinya Wb akan sulit untuk bereproduksi, berkembangbiak, bahkan untuk bergerak. Dan kutil itu kami namakan LIMI.
.
Label yang satu ini adalah label yang baru jadi dan ada di Margonda Depok. Mereka yang memproduksi albuk Wb 1000 keping tanpa memikirkan taktik promosi dan distribusi yang mateng sehingga albumnya jadi sulit didapat. Gue pengen curhat ama kalian semua, pembaca yang budiman, tentang sakit kutil yang diderita wonderbra.
.
kami menyadari penyakit ini ketika kami mulai bertanya-tanya tentang distribusi album yang tidak muncul di distro-distro besar di Jakarta dan Bandung. Sehingga kami sendiri yang harus ke distro-distro tsb mengantarkannya. Belum lagi di Bandung, Wb dibagikan secara tidak merata ke radio-radio sana. Otomatis kita dapet No. 1 di chart indie ardan, sedangkan di radio laen ga ada yang kenal. Ironis. walhasil manajemen erik dan manan terpaksa bolak-balik bandung-jakarta untuk nyebarin album di distro dan radio.
.
Pas launching mereka juga bikin kita naik pitam. Bayangin dul, masa kami cuma dah bayar semua biaya untuk launching, sehingga mereka cuma kebagian nyediain alat, stiker, sama press kit tp yg beres cuma alat doang. Stiker yg gue proposed 2 desain, cuma dibikin satu desain, dan satu lagi stiker LIMI.
.
Dan yang parah Press Kit yang mestinya menyangkut band Wonderbra malah berisi profil LIMI dibungkus dengan kantung kertas berlogo LIMI. Di mana Wonderbra-nya? Wonderbranya nyempil di profil sebagai PRODUK LIMI! ANJRRRIIIIT!! Label mana yang segoblok itu. Di mana-mana label yang nyempil, mana ada produk yang nyempil. Biskuit aja tahu: Biskuat dari Danone! Bukan Danone dari Biskuat. Yang mao lo jual apa, Til? Bandnya apa labelnya!?.
.
Trus masalah yang parah lagi datang bertubi-tubi. Follow up penjualan album yang mustinya di upgrade setiap tiga bulan, ga pernah ada laporannya, padahal di banyak distro besar, termasuk di soho music store dan beberapa tempat di Bandung, 'Crossing The Railroad' dah sold out. Buat nyupply nya aja lama banget, padahal tokonya dah lama minta.
.
Dan yang paling mengagetkan adalah munculnya lagu-lagu kami sebagai nada sambung Indosat. Delapan lagu, semuanya muncul. Si kutil bilang, dia udah ngasih tau kita bahwa mereka akan kerja sama dengan Import. Tapi waktu kita tanya kontraknya mana, mereka bilang belom ada. Anjing! padahal untuk download lagu itu harus  bayar Rp. 5500 dan keuntungannya untuk yang punya lagu 70%.
.
Sampai sekarang mereka ngajakin kita maen kucing-kucingan. Padahal kita udah anjing-anjingan kerja buat membesarkan BH ajaib ini menjadi ukuran 39 D! Buat ketemu aja susah banget dan jadwalnya ga pernah cocok.
.
Awalnya ini masalah internal band Wb. Tapi kesabaran gue sebagai pembuat kebnykan kerangka lagu di album 'nyebrang rel kreta' nyang ca'ur itu merasa sakit hati, dan mendingan curhat kepada pembaca yang budiman, berpekerti dan rajin menabung. Gue percaya sebagai band Indie, gue harus memberitakan ini kepada semua teman-teman yang akan memulai produksi album indie, dan meminta saran kepada band-band yang dah lebih senior. Indie supports its family, rite?
.
Awas! penyakit kutil kapitalisme itu ada di mana-mana. Itu adalah konsekuensi ketika sebuah karya mulai dihargai dengan uang. Namun, karena kita hidup dalam sistem tersebut, dan uang menjadi salah satu simbol pengakuan eksistensi, kita musti banyak belajar. Buat gue, masalah kutil Wb adalah tragedi, dan seperti kata Nietzsche, fungsi utama tragedi adalah memberi pelajaran kepada manusia tentang hidup. Salam Yahweh!

note: Ini gue, Nosa! Gue udah naek pitam. Kalo elo merasa sebagai kutil yang membaca tulisan ini, dan elo marah karena gue bilang lo kutil, sinilo telp gue, ajakin ketemuan kalo berani, you slave-sucking-fascist! kutil lo anjing!

Launching "Crossing The Railroad"

Gue ngomongin launching album, dengan foreplay sebagai berikut:
Ironis. Gue sendiri dah lupa kapan Wb launching album pertama nan ca'ur: soundnya ga mateng, mixingnya kurang bagus, sleevenya salah cetak, dan yang paling salah, produsernya nekat nyetak 1000 keping dengan pemasaran yang acakadut. Hooo...

Tapi ga bisa dipungkiri album tersebut adalah hasil kerja keras kami-kami yang waktu itu masih 'young and stupid'. Sekarang mah, qta udah 'quite old and...drunk'. ...'and stupid'. The second thing is a good thing though;] hiks.

Kembali ke launching. Acara tersebut terselenggara atas dukungan provoke! magazine, dan kerjasama 2 pihak: manajemen wonderbra dan label LIMI.

manajemen Wonderbra bantuin menggalang dana dan mencari koneksi untuk band-band yang akan main di acara tersebut. Walaupun pada akhirnya urusan mencari koneksi dilakukan dengan charm, kegaulan, dan availability Thera, sehingga berhasil membuat teman-teman  sperti Stupid Robotic Killing Machine, Stereomantic, Zeke and The Popo, Afamous, dan band cadangan  yang sangat kami  hormati dan sangat berhutang budi, Rumput Laut, sudi  main.

Manajemen Wonderbra yg terdiri dari Eric, Manan, dan Sisie berhasil menggalang dana, wartawan dan tenaga dari teman-teman FIB (khususnya anak-anak kansas dan jurusan Filsafat) untuk membantu jalannya launching tersebut. Dua di antara para bala bantuan, yaitu Aya dan Claudia, berhasil membuat meja penerima tamu menjadi 'manis'. Sebenarnya konotasi manis tadi agak negatif, karena ketika band main, tamu-tamu cowok yang gatel malah pada sibuk godain mereka berdua, Thera kalah pamor...

Belum lagi dua MC Gila yang jago improvisasi: Mr. Wolfgang dan Mr...oops, Ms. Hani. Bayangin, ketika cd promo abies, mereka bikin games dan kuis dengan hadiah: Tolak angin cair! bener2 orang pinter!

Selain itu manajemen telah berhasil memberikan kita (wb, band yang main, dan tamu-tamu yang cuma pengen mabok), cukup banyak pitcher berisi beer yang membuat kami kembung. Overall, manajemen Wonderbra was awesome!

Band-band yang main juga sangat membuat acara menjadi hidup. SRKM (tai, panjang banget namalo), rela manggung di saat sepi dengan sangat kerennya. Sehingga walaupun keadaan lagi sepi, performa mereka yang maksimal menghasilkan banyak foto-foto yang yahud. Lumayan, dul, buat TP dan profil kalian.

Stereomantic dengan konsep fullbandnya juga mantabbb... banyak org berpendapat bahwa band ini ga nyambung dgn musik usungan Wb, namun ternyata, aura bluesnya cukup kental walau mereka membawakan lagu pop. Hail!

Rumput laut tampil dadakan lantaran Afamous (seperti biasa) telat be'eng. Namun gitar kopong dan suara yang merdu bak menikmati es rumput laut di hari yang panas ditengah polusi kota membuat kami semua senang...

Afamous (akhirnya muncul) dengan keluhan Johny T, "woi, ini alat siapa sih!? nyempitin!" secara Zeke and The Popo dah nyampe duluan ke TKP, dan menaruh banyak ampli di sondong. Still, tetep aja nggak ada yang bisa marah ama Afamous, mereka maennya ANJING-ANJINGAN! KEREN DAN GROOVY ABIES! (kalo jelek namanya kucing-kucingan)... soulful, and that male voice remind us of opa Elvis Pelvis w/ his pelvishly hip!

Zeke and The Popo...Not much comments, just: goddamn! they were skillful, soulful, richful (look at those equipment!), and Ouch-ful for the guys, cuz the vocalist got  the prettiest girl in da house.. (y'all know who he and she were rite? if you don't, start gowling around!)

The last band performing (supposedly)...
Wonderbra. It was the proudest day of my entire fucking life, and its not over yet. No further comment.

Namun acara belum berakhir. Setelah wonderbra ada band kolaborasi yang dinamakan 'all stars', terdiri dari cabutan semua band yang tadi maen. Yang maen siapa aja, gue dah agak-agak lupa. yg gue inget drummernya anak SRKM, gitarisnya ZATP, keyboardis dan bassist nya Afamous, dan Vocalnya Wb.  Sayang mereka cuma bawain satu lagu.

Setelah mereka selesai, gue berharap ada yang teriak 'ENCORE!'. Tetapi mereka malah ngmong bahasa indonesiannya, yaitu:"Gugun...Gugun...Gugun!!" Loh? sebagai anak sastra inggris, gue tahu kalo bahasa indonesianya encore itu kan 'lagi!' bukan 'Gugun'. Ternyata efek Global Warming sudah sangat parah, sehingga dewa-dewa Blues, Gugun and the Bluesbugs pada jatoh dari langit  yg berlobang dan hadir di launching. Dan yang paling ajaib: Mereka main! Gugun dan Ardi bassistnya, diiringi dengan dentuman drum Japra dari SRKM (gue sebutin nama drummer karena dia sangat beruntung bisa maen sama tuhan-tuhan), menutup acara dengan sangat fenomenal melalui lagu "Roadhouse Blues", dibantu oleh penyair Shamanic kita Gema Mawardi sebagai vokal ( dy lg trance berat bgt! jack pada patah macam ada highlander yg mati), seakan memberi kami selamat jalan di dunia rock n roll indonesia yg penuh dengan kemabukkan...

And indeed, it was the proudest day of my life. penonton yang ga terlalu ramai sehingga mainnya nggak terlalu keganggu, membuat kita merasa lagi selametan keluarga. Love u all guys!thanks dan maaf untuk semua kawan-kawan yang dateng dan ga disebutin di esei ini. You know who you are and how much we love you.

ps: gue belom ngomongin peran label LIMI di sini.sengaja ga gue omongin sebab ini tulisan bahagia bagaikan susu sebelangga. omongan label yang setitik nila bakal gue omongin di tulisan yang lain...

Hantu Di Lift PIM II

Buat beberapa orang, pengalaman manggung bersama Wonderbra adalah hal yang tidak akan terlupakan. Segala hal dari permainan yang paling bagus (dengan mood, sound, dan crowd yang maksimal), sampai yang terburuk (mood skripsi, sound dangdut, crowd robot dan yang tak kalah menarik, akrobat stik terbang Edy Sembodo yang mengagumkan!!). Tapi dari semua hal itu, yang paling mengagumkan mungkin pengalaman yang ini, sebuah pengalaman di luar panggung yang sangat menggemparkan dan gak akan dilupakan: ketemu hantu di PIM II.

Ada banyak versi dari pengalaman yang satu ini, secara di lift PIM II di deket Mezza 9, lift sebelah kanan; ada 10 anak-anak wonderbra di dalamnya: Asep, Edi, Abrar, Nosa, Manan, Erikmanajerqta, Sisie, Kuyut, Ari, Erikismis; dan kesepuluhnya adalah saksi nyata tentang keberadaan makhluk halus di lift tersebut. Yang aneh adalah kesepuluh-sepuluhnya memiliki versi yang berbeda mengenai hal ini. Karna gue tau lu pada bete baca blog panjang2, yang akan gue ceritain adalah versi orang terganteng di wbra, nosa, yang ia inget sekarang, jadi kesalahan mungkin bakal banyak krn di antara homo sapiens yang lain, gitaris keren lagi perkasa ini jarang bisa mengingat kejadian gaib, seperti wkt ia reinkarnasi jadi babi stelah dikutuk dewi kwan im.

Ia mengaku seperti ini di kosannya:
 
“Malam itu setelah manggung di Mezza 9, gue basi banget. Karena malem itu wonderbra main dengan orang-orang yang maksimal, tetapi dengan kondisi pemain yang tidak maksimal. Pada kendor semuanya; dari segi fisik ga berimbang dengan adrenalin rush rock ‘n roll (bener kata mas Yudhi Soenarto, fisik emang salah satu faktor utama seni pertunjukan). Yah, mempercepatnya seperti ini: kita hampir saja meninggalkan Mezza 9 dengan kenangan buruk, sampai kita tiba di lift.

Menurut ingatan gue, gue masuk lift belakangan, bareng manan, dan entah siapa lagi gue lupa. Waktu itu gue dan anak-anak abis ketemu ama Iman ‘zeke and the popo’, dan obrolan yang menyenangkan dengan anak2 yang dateng nonton ga bikin feeling gue lebih baik. Walhasil, waktu masuk lift, gue cemberut ;(. Di depan lift ada dua mbak2 yang ga mao masuk dan ngalangin jalan. Gue dengan cueknya menerobos dan masuk lift. Samar-samar gue denger mbak2 itu bilang,”jangan masuk, ada setan dipojok, setan di pojok…”

Dalam hati gue bilang,”the hell, mood gue lagi lebih panas daripada setan di neraka, apalagi di pojok!” dan gue langsung menuju ke pojok kanan, (kalo dilihat dari pintu keluar), dan si mbak2 kaget ngeliatin gue. Gue juga kaget ngeliatin mbak2 secara dia menor banget, padahal pulang kerja.

Gue bilang lagi dengan sopan,”masuk mbak”, karena ruangan lift masih kosong. terus dia malah takut ngeliat gue. “ih,” kate gue dalem hati,”situ yang dandanannya kayak lenong, ngapain situ yang takut.” Gue cuek bebek diri di pojok dan menutuplah pintu lift. Tiba-tiba pintu lift terbuka lagi, dan gue lihat muke lenong itu lagi. Di deket tombol pintu lift, ada si Edy yang melongo dengan muka homo habilis yang pertama kali menemukan api.

Manan berteriak,”yah. Edy genit. Bilang aja lo pengen liat mbak-mbaknya lagi.” Sebuah teriakan yang ga tau diri, secara itu keras be’eng dan mbak2 itchu masih disitchu! Edy salting dan bilang, “siapa? Bukan gue. Kesenggol tas gue kali.”

Kesian Edy, karena ternyata emang bukan dia (walau kita yakin dia pasti blm pernah naek lift di jaman batu). Ternyata lift itu emang aneh, karna dia terbuka lagi utk ketiga kalinya. Dan setelah menutup, kita turun dengan damai…sepertinya.”

Begitu kata Nosa. Ketika ia menutup dengan kata Sepertinya ia bermaksud lain Karena ternyata setelah rombongan sampai ke mobil, tepatnya di manggarai setelah Ari (turun di lebak bulus) dan Kuyut (turun di manggarai) dengan memperlakukan erikmanajerqta  layaknya supir angkot jurusan Pim Manggarai, Sang supir angkot pun bertanya pada kondektur di sebelahnya, “Sie, tadi mbak2 ngapain ngeliatin kita ya?”.

Lalu kondektur seksi bernama sisie yang layaknya montir seksi di koran poskota menjawab supir dengan,”mungkin dia nyuruh temennya pada keluar.”

Supir bertanya lagi,”Lho? Bukannya temen-temennya udah pada keluar?”

“Belom, ah. Masih banyak yang di dalam…tapi tadi perasaan yang turun dari lift qta-qta doang. Mereka turun di lt berapa ya?”

Semua terdiam, dan berbicaralah dua orang kunyuk bernama Asep dan Manan dan mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selain yahweh….bahwa mereka melihat banyak orang selain anak2 wbra yang 10 orang di dalam lift. Sementara itu, gitaris ganteng yang tadi berdiri di pojok kanan lift, tidak melihat apa2. Si tampan dengan berat 65 tinggi 171, tidak melihat apa-apa kecuali anak-anak wbra. Tp ia merasa sungguh sesak, seakan lift itu memang dipenuhi orang. Karena itulah sepanjang perjalanan dari lantai paling atas sampai paling bawah tidak ada yang berbicara sepatah katapun.

Seraya mengingat kejadian tersebut, maka berteriaklah seisi mobil yang berisi enam homo sapien (vol otak > 300 Cc), satu homo habilis (vol otak< 150Cc), dan satu orang batak (vol otak > Rp 500.000/minggu), “ARARRRRGGGHHHH! GILLLAAA!! TADI APAAN TUH!!” dan kita semua sadar, bahwa di lift itu memang ada makhluk-makhluk yang, meminjam istilah mbah maridjan, “metafisik”.Dan kita langsung menuju ke Depok untuk meminta perlindungan kepada: tukang bubur sukabumi yang terkenal enak dan bsa menghangatkan perut dan berkhasiat menghilangan halusinasi (langganan setiap kali pulang mabok) siapa tahu, kita manusia depok yang mabok udara jakarta.

Ketika sampe tukang bubur, the buburman langsung bingung, karena ada segerombolan anak-anak sastra yang terlanjur berkhayal bahwa mereka sebenarnya sudah mati di dalam lift, dan yang dateng ke sana adalah roh2 mereka yang kangen makan bubur. Yang bikin tukang bubur panik dan hampir menelp RSU Depok bagian kejiwaan adalah ketika anak2 ini bertanya dengan mata melotot,”bang, abang bisa liat kita kan? Bisa kan?” Untungnya si abang bubur kenal beberapa dari kita yang sering ke sana dalam keadaan tanpa arwah alias gits berat, jadi dia cuma komentar dalam hati,”wah, abis nyoba produk baru nih bocah2…”

Yak, utk mempersingkat blog ini yang ternyata sudah dua halaman, pada akhirnya setelah membuat panik tukang bubur, mendengar cerita satu sama lain(yang ga ada koherensinya), dan mengganggu orang jalan tak bersalah bernama Pawl sekedar untuk curhat, kami akhirnya menyebar kembali ke habitat masing-masing. Edy, Asep, Sisie, kembali ke kosan. Sementara Nosa, manan, erikismis, terpaksa cek in di rumah Erikmanajerqta karena ada tendensi bahwa setan PIM II masih bercokol di mobil kijangnya. Walau pada akhirnya, hal ini menjadi hal yang cukup menggemparkan di kancut dan membuat GOGON (Gosip-Gosip Ondergrond) yang bahkan soemboe! males buat nyetakin, ini tetap membekas di hati mereka semua dan gue juga. Sebuah pengalaman pengganti nonton manggung yang caur, dan membuang adrenalin rush yang cukup besar buat anak-anak itu. siapa yang tahu, hantu-hantu itu cuma datang untuk menonton. seperti juga gue. haha. keren.

 

 

Orang ketiga…

sang Omnious

 

Die Die Warhol Die!

oleh NOSA THE WONDERGUITAR

Andy Warhol yang 'namanya' terkenal gara-gara logo-logo iklan komersial yang dia buat pernah membuat suatu pernyataan kalo "Art is Money, and Money is Art." Di sini gue berniat membunuh si Warhol ini yang gue anggep seniman besar yang menyalahartikan seni!

Buat gue money is art! itu jelas. ada gambar-gambar di duit, ada relasi kekuasaan yang sangat jelas baik secara politik, atau sosio-kultural di duit di setiap negara, itu membuktikan duit adalah suatu karya seni. Duit adalah karya seni yang menggerakan kegiatan suatu negara, dan secara global, dunia. Tapi seni bukan duit. Dia adalah penggeraknya dan itu nggak berhubungan terbalik. kenapa?

Akarnya duit adalah angka. itu adalah bahasa universal, kode yang semua orang tahu.  angka sendiri adalah simbol-simbol kuno yang dipakai untuk menginterpretasikan nilai-nilai abstrak dalam pikiran; ia sendiri adalah seni. Maka kalau seni adalah duit, maka akar dari seni adalah angka. Apa betul begitu? Tentu tidak! seni terjadi karena interteks-interteks yang lebih rumit daripada angka, semua bagian pikiran manusia adalah bagian dari seni sendiri, dan duit beserta angkanya cuma salah satu faktornya. Duit bagaikan tangan dan seni bagaikan tubuh, elo bisa bilang tangan adalah bagian dari tubuh, tapi nggak bisa bilang tubuh bagian dari tangan!

Memang untuk membuat karya seni harus menggunakan uang? nggak juga! karena Uang adalah suatu sistem, dan kalau ada sekelompok orang lain diluar sistem uang itu mengakui satu hal sebagai seni, maka hal itu akan menjadi seni yang bukan dihargai oleh uang.  Misalnya ada sebuah band Rock n Roll bernama Wonderbra yang menilai bahwa musik mereka enak mereka mainkan dan mereka dengarkan. Maka disanalah mereka membuat karya seni yang mereka hargai di luar sistem uang. Selama mereka membuat lagu2 diluar sistem uang yang ada (i.e. tidak dalam maksud komersial) dan mereka mencintai musik mereka sendiri, niscaya mereka akan bebas dari kekuasaan kapitalis tersebut (yang didalamnya terdapat kekuasaan tarik menarik antara politik, media, dan ideologi penguasa)dan membuat seni sebagai seni. Bukan uang, bukan ketenaran, bukan juga ambisi. Sesederhana, Rock n Roll.

PS: Kerelaan adalah inti dari semua kesenian, dan ketika semua mulai berkata-kata dalam pujian, ejekan, hinaan, makian, dan mulai memasukan kita ke dalam sistem uang, ingatlah bahwa karya seni takkan berarti ketika sendirian. Seni selamanya akan menjadi komunal, dan persetan semua sistem...maka relakah seni yang sudah kalian buang di tong sampah kapitalisme, itu bukan kalian, itu hanya sebuah mimesis, dan mereka takkan pernah tahu apa yang kita alami di panggung, di hidup dan di studio, selamanya itu akan menjadi milik kita secara eklusif!

Review "Crossing the Railroad" by Pelukislangit a.k.a Felix dass

* * * * (four star out of five)

Saya merasa begitu terasing. Apakah benar saya sedang berada di tengah kerasnya kota Jakarta dan suburbannya yang menjadi teman akrab saya menuju rumah, atau saya sedang menjalankan sebuah perjalanan tanpa sadar menuju tanah Amerika? Ternyata, kaki saya masih memijak tanah. Saya tidak sedang bermimpi.

Perkenalkan, Wonderbra. Band rock dari tanah Depok, suburban Jakarta. Pertama kali, saya menonton mereka bermain langsung sekitar dua tahun yang lalu di bilangan Kemang. Dan sekarang, mereka baru saja merilis album penuh mereka yang pertama. Judulnya Crossing the Railroad.

Sleevenya jelek. Kurang kawin dengan musik mereka. Dominasi warna merah yang dikawinkan dengan hitam seakan kurang representatif dengan musik mereka. Tapi, hal itu bisa dihilangkan begitu saja. Toh, kita mendengarkan musik. Bukan melihat sleevenya.

Rekaman ini berisi delapan buah lagu yang begitu bertenaga. Dibuka oleh sebuah lagu berjudul Dig It Deep. Beat lagu ini begitu bertenaga. Berhasil membuka petualangan baru bersama Wonderbra yang begitu sempurna. Sang vokalis bernyanyi dengan suara yang begitu hebat. Pasti akan mengingatkan orang akan sosok perempuan legenda musik rock itu. Dance With the Blues juga meninggalkan impresi yang sama. Sepertinya mereka memang secara masif ingin memprovokasi orang yang mendengarkan dua lagu ini untuk menjadi liar dan melupakan sekitar.

Track yang mencuri perhatian adalah Crossing the Railroad. Lagu pelan yang satu ini benar-benar memamerkan kualitas vokal tingkat tinggi milik Thera, sang vokalis. Lagu balada tentang hubungan antar manusia yang bagus. Ini track yang paling saya suka dari rekaman ini. Ada lagi satu lagu balada yang bagus. Judulnya Ode (To Lady Janis) –sekaligus menjadi konfirmasi siapa idola mereka, sepertinya—.

Saya pikir, musik mereka harus mendapatkan banyak perhatian. Terutama kesempatan untuk bermain langsung di atas panggung. Toh, musik seperti ini memang punya kodrat untuk tampil dengan kuantitas yang banyak di atas panggung.

Lagu penutup rekaman ini, Hell's Kitchen juga begitu menggugah. Tidak menyisakan ruang untuk bernapas. Syukur bahwa mereka hanya memasukan delapan track ke dalam rekaman ini. Jadi, sebongkah kekaguman itu masih terjaga dengan kadar yang standar, tidak lebih, tidak kurang. Hell's Kitchen adalah sebuah lagu bertipe singalong yang cantik.

Secara garis besar, musik Wonderbra sangat menarik. Akan menjadi lebih menarik ketika mereka mendapatkan banyak kesempatan untuk bermain bagi orang banyak. Band ini salah satu band rock yang berbahaya. Tidak ada keraguan untuk yang satu itu. Cari segera album ini. (pelukislangit)

Original site:  http://pelukislangit.multiply.com/reviews/item/45

Single "Hell's Kitchen" jadi jawara di playlist indie 7 ARDAN FM Bandung!!!! yipppiieee....

Di suatu minggu siang yang cerah (11 Maret 2007) saat gue mengunjungi saudara-saudara semakhluk hidup berupa gorila, gajah, jerapah dan lain-lain di ragunan zoo (yeah, gue lagi out on a date tp udah bosen ke mal, jadi kita ke kebon binatang cari suasana baru.. and it was sooo much fun walopun sangat tidak rok en rol, but who cares...) Tiba2, telepon gue berdering, rupanya nomernya nomer bandung, ternyata dari radio ARDAN membawa sebuah kabar baik... Single pertama kita "Hell's Kitchen" ada di peringkat pertama playlist indie mereka, padahal rasanya baru aja single dimasukkin satu/dua minggu yang lalu. Horeeee!!! Dan hari itu juga gue inget kalo ternyata tgl 8 kemaren tuh ulang taun wonderbra (shiat, gue lupaaa...) Ah yasudah, sungguh sebuah hari yang indah di kebon binatang, terimakasih yah buat teman2 di bandung yang sudah mendukung kita, moga2 di jakarta kita juga dapet dukungan yang sama... :) Cheers! -t-